[Freelance] Nae Maeumi

Title: Nae Maeumi (My Heart)

 Cast:

·        Lee Jinki (Onew)

·        Park Jiyeon

·        Choi Minho

·        Choi Jinri (Sulli)

Genre: Romance, Humor (Maybe?), Hurt

Rating: PG 13

Writer: Park Rynchan (@AnnisaHaris_)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 Oppa~.”, rengek seorang yeoja kepada namjachingu-nya. Sedangkan yang dipanggil hanya diam seribu bahasa. Karena kesal sang yeoja memanggil lagi.

Oppa!! Minho oppa!”, panggilnya.

“Ish!! Ada apa, Park Jiyeon!!”, jawab namja yang bernama Minho, Choi Minho lebih tepatnya.

Kajja! Kita ke kantin, na jeongmal baegopayo.”, ajak yeoja yang bernama Jiyeon itu.

Minho hanya melirik Jiyeon dengan tatapan malas, “Mianhae, aku lelah. Pergi sendiri, ya?” balasnya singkat lalu melanjutkan tidurnya yang terganggu –karena Jiyeon tentunya.

 

‘Haah, selalu seperti ini. Sebenarnya aku dianggap apa sih oleh Minho oppa?’, batin Jiyeon galau (?). Yah, memang selama berpacaran dengan Minho, Jiyeon menganggap keberadaan dirinya tak di gubris olehnamja itu. Sedih memang, namun, mau bagaimana lagi?

 

Putus?

 

Tidak mungkin! Jiyeon sudah terlalu mencintai namja yang satu itu. Yah, walaupun sepertinya cinta Jiyeon bertepuk sebelah tangan. Dan hanya dia yang menganggap bahwa hubungan mereka itu ada. Sedangkan Minho? Ck, tak usah ditanya pun kalian sudah tahu.

 

“Jiyeon-ah?”, ucap seseorang, sedangkan orang yang merasa memiliki nama menoleh.

“Jinki? Lee Jinki? Onew oppa?!!”, Tanya Jiyeon sambil membulatkan matanya.

Ne, masih ingat, eh?”, jawab namja yang bernama Onew tadi, sambil terkekeh pelan.

“Tentu saja! Bagaimana bisa aku lupa dengan orang yang pernah menyelamatkan nyawaku? Coba kalau tak ada, oppa. Mungkin aku sudah mati.”, tutur Jiyeon sambil tersenyum lembut kearah Onew.

 

~FLASHBACK~

 

Seorang yeoja manis, berambut panjang, tengah berlari diantara kerumunan orang yang berlalu-lalang. Dia terlihat tengah menahan air matanya, yeoja itu menangis karena sang namjachingu. Dia sudah tak tahan lagi dengan keadaan yang hanya terlihat makin menyiksanya. Ah! Bukan! Bukan raganya yang tersiksa, melainkan hatinya.

Dia seakan tuli dengan ocehan-ocehan yang dilontarkan para pejalan kaki yang ditabraknya. Dia tak peduli sudah berapa banyak orang yang dia tabrak. Dia hanya menangis, dan terus menangis. Saat tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya.

 

TIINN… TIINN…

 

Suara klakson mobil yang menyuruhnya minggir, seakan tak terdengar. Dia terlalu shock, yeoja itu hanya mematung. Membiarkan teriakan semua orang yang menyuruhnya minggir. Dia tahu ada mobil yang melaju ke arahnya! Dia tak buta! Hanya saja, kakinya tak kunjung reflex bergerak. Yeoja itu gemetaran.

 

Eoteokhe?’, batin yeoja itu –panik. Di detik berikutnya, dia hanya pasrah. Pasrah akan kematiannya, yang seakan menjemputnya hari ini. Lagipula, dia juga ingin pisah dengan namja brengsek yang telah membuatnya menumpahkan bergalon-galon (?) air mata. Dengan cara ini, dia tak perlu mengucapkan, “Aku sudah muak denganmu. LOE. GUE. END!”, pada namja itu. Yang berakibat –mungkin- namja itu mengingat terus kata-katanya, seakan menjadi yel-yel cheerleaders di sekolah, atau menjadi perbincangan hangat seorang pembawa acar cuaca, (Oke, aku tahu kalo ini CoPast dari iklan. Maap..). Ayolah, namja itu bahkan tak pernah melihatnya. Bagaimana semua itu bisa terjadi?? Hatinya serasa miris membayangkan itu.

 

Namun, detik selanjutnya. Tubuhnya seakan ditarik oleh seseorang. Oh! Ralat! Bukan seakan lagi, melainkan MEMANG ditarik utuk menyelamatkannya.

“Hey! Neo micheoseoyo??!! Kau bisa mati tadi! Babo!”, bentak namja itu spontan.

“Heh, neo.. Nuguya? Aku tak butuh dirimu! Lagipula, aku juga mau mati tadi! Kenapa kau menghalangiku!! Wae!!!”, jawab yeoja itu sarkastik dan histeris mengingat usaha bunuh dirinya gagal. Ia memukul-mukul badan namja di depannya.

 

Sedangkan yang dipukul hanya terdiam, mematung. “Neo.. Park Jiyeon-ssi?!”, kaget namja tadi. Sedangkan yeoja yang tadinya asyik memukuli namja itu berhenti. Dia mendongakkan kepalanya, “Ne? Apa aku mengenalmu?”, Tanya yeoja yang ternyata bernama Jiyeon itu, sedikit lebih lembut.

“Eum! Mungkin kau kurang mengenalku yang tidak terlalu popular. Tapi… Aku mengenalmu, kita satu sekolah.. Dan satu.. kelas..”, lirih pemuda tampan itu.

Mwo? Satu kelas? Aku bahkan baru melihatmu. Ah.. Aku benar-benar ceroboh. Teman sekelas kok nggak bisa nggak tahu!!”, maki Jiyeon pada dirinya sendiri.

 

“Ah! Kalau begitu, perkenalkan. Naneun Lee Jinki Imnida, tapi lebih sering dipanggil Onew.Bangapseumnida~.”, balas namja yang ternyata bernama Onew itu.

NeBangapseumnida, Onew-ssiNaneun-”, “Park Jiyeon, ne? Aku sudah tahu itu…” potong Onew sambil nyengir.

“Oh! Iya.. Hha~, aku lumayan terkenal yah? Emm, Gamsahamnida, sudah menyelamatkanku tadi. Dan..Jwesonghamnida… sudah memukulmu.”, ucap Jiyeon sambil menundukkan kepalanya.

Gwenchana, tak usah se-formal itu Jiyeon-ssi. Aku hanya lebih tua 1 tahun darimu.”, tutur Onew lembut.

“Ha? Jinjja? Kalau begitu aku mau memanggilmu ‘oppa’arra? Aku kurang nyaman dengan imbuhan ‘ssi’di belakang namamu.”, pinta Jiyeon ramah.

Arraseo, terserah kau saja Jiyeon-ssi.” Ucap Onew santai. “Kenapa oppa masih memanggilku dengan imbuhan ‘ssi’? Formal sekali..”, balas Jiyeon yang lalu mengerucutkan bibirnya.

“Lalu.. kau ingin kupanggil apa, hm?”, Tanya Onew.

“Jiyeon-ah! Panggil aku seperti itu mulai sekarang, arrachi, oppa?”, tawar Jiyeon.

“Hm.. Arra.”, setuju Onew sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.

 

~FLASHBACK END~

 

“Ehehe, iya. Pergi sendiri lagi, eh?”, Tanya Onew. “Uhm..”, lirih Jiyeon sambil menunduk dan mengangguk pelan.

“Hahh, kali ini apa alasannya, Jiyeon-ah?”, kesal Onew. Ya, Jiyeon pernah menceritakan tentang Minho pada Onew. Walaupun bagi Onew, itu tak terlalu penting. Dia sudah tahu sendiri. Namun, mendengarnya langsung dari yeoja yang dia sukai –Jiyeon-, terasa lebih menyakitkan. Mengingat kenapa Jiyeon lebih menyukai Minho daripada dirinya. Itu yang membuatnya lebih sering melamun, seperti sekarang.

 

“Yaa!! Oppa! Dengar tidak? Melamun lagi, eoh?” sindir Jiyeon.

“He, mianhae.. Kau bilang apa tadi?” pinta Onew.

“Katanya, dia lelah. Aku tak tega mengajaknya..” tutur Jiyeon pelan.

Ish, geu namja…”, desis Onew sebal.

 

Hening.

 

Mereka berdua masih sibuk dengan pikiran masing-masing. Ketika suara Jiyeon membuyarkan lamunan dan keheningan yang terjadi.

 

“Ah! Dwaesseo, oppa! Sekarang ‘kan ada, oppa! Mau ke kantin bersamaku?” tawar Jiyeon dengan mata berbinar.

“Eumm.. Mian..”, “Ah! Geurae, takut yeojachingu oppa marah, ne?”, goda Jiyeon. Meski mencoba bercanda, tertangkap juga nada kecewa di perkataan yeoja ini.

Aniya!! Aku tak punya yeojachingu! Lagipula siapa juga yang mau menjadi yeojachinguku, hm?”, balas Onew sambil terkekeh pelan.

 

‘Aku! Aku mau, oppa! Sepertinya aku bisa melupakan Minho oppa dengan cara ini. Kulihat kau orang baik, oppa. Aku yakin kau takkan mengecewakanku seperti Minho oppa..’, batin Jiyeon.

 

Sejak insiden Jiyeon yang hampir ditabrak itu, Jiyeon mulai mempunyai secercah rasa untuk Onew. Yah, walaupun tak sebanyak yang untuk Minho.

 

“Ah! Kenapa malah membahas ini, sih?!”, ungkap Onew yang mulai menyadari keganjilan di percakapannya dan Jiyeon.

“Oya Jiyeon-ah, tentang bekal.. Eomma-ku sudah membuatkannya. Jadi aku tak jajan di kantin”, tutur Onew lembut.

“Ne? Jangan bercanda, oppa!”, kejut Jiyeon. Bayangkan saja, kelas XII SMA, masih dibuatkan bekal? Apa kata dunia, coba? Jiyeon berpikir keras. Sampai suara Onew membuyarkan semua lamunan dan pikirannya yang hanya sesaat itu.

Ne. Wae?”, ucap Onew polos. Belum mengerti rupanya tuan muda ‘Lee’ ini. Atau, otaknya masih dalam proses? Tak biasanya Onew yang dikenal jenius ini, menjadi lola.

Aish, masa kau tak mengerti juga..”, ucap Jiyeon sambil menahan tawa.

“Ah! Jangan kau bilang kalau aku kekanak-kanakan.. Ini eomma-ku yang meminta..”, ungkap Onew yang akhirnya connect. Tapi, tak ada jawaban dari Jiyeon.

Ketika dirilik, ‘SIAL! DIA TERTAWA!’ Batin Onew sebal.

“Ah! Dwaesseo! Aku pergi ya?” Pamit Onew.

“HAHAHA-, eh? AH! CHAMKAMMAN, OPPA!!!” Panggil Jiyeon.

“Sudah berubah pikiran?” Tanya Onew.

Ne, mianhaeyo~~.” ucap Jiyeon sambil menunjukkan mimik anak kecil yang menyesali perbuatannya.

Ne..Ne… Kajja!” Ajak Onew yang spontan menarik tangan Jiyeon. Sedangkan Jiyeon, mukanya hanya timbul garis-garis merah tipis di pipinya.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

@School’s Roof 

“Akh! Akhirnya sampai!! Segarnyaaa…” Ucap Onew sambil merentangkan tangannya.

“Wuah! Aku tak tahu kalau pemandangan dilihat dari atas itu bagus-. Ani, menakjubkan!!!” Kagum Jiyeon dengan matanya yang berbinar-binar. Onew yang melihatnya hanya tersenyum kecil. ‘Kau jauh lebih menakjubkan, Jiyeon-ah’ batin Onew.

Yah, Onew memang menyukai Jiyeon sejak kelas 1 dulu. Sampai sekarang, kelas 3. Namun sayang, perasaan Jiyeon berbeda 180° dengannya. Bahkan dia baru mengetahui dan mengenal dirinya beberapa hari yang lalu.

Hatinya bagai jatuh ke dasar jurang Gunung Salak seperti yang dialami bangkai pesawat Sukhoi SuperJet 100, ketika mengetahui bahwa Jiyeon jadian dengan Minho.

Dan, sebenarnya dia orang yang terkenal. Lihatlah, darimana asalnya JLL -‘Jinki Lophe Lophe’- kalau bukan karena dirinya? Hanya saja Jiyeon belum sadar, masih belum tahu. Dan, terlalu polos untuk mempercayai ucapan tentang dirinya…

Oppa! Aku minta bekalmu ya?” Pinta Jiyeon.

“Hm? Apa tidak apa-apa? Kalau selera kita beda?” Cemas Onew.

Gwenchana, aku mau mencoba rasa baru… Mungkin?” Ucap Jiyeon yang langsung bingung sendiri gara-gara ucapannya tadi.

Kyeopta…” Gumam Onew tanpa sadar -karena melihat wajah Jiyeon yang innocent itu.

Ne?” Balas Jiyeon tiba-tiba yang membuat Onew kaget.

“A-ah, ani. Bukan apa-apa. Ka-kajjauri ijen mokgo.” sahut Onew salting. Ketahuan muji Jiyeon.

‘Payah kau Jinki-ya!’ Rutuk Onew dalam hatinya.

Ketika Onew sudah mau memakan bekalnya. Dia belum melihat Jiyeon duduk di sampingnya. ‘Kemana yeoja itu?’ Batin Onew.

Dia mendongakkan kepalanya yang semula tertunduk. Dia dapat melihat kaki Jiyeon yang seolah kaku. Dia semakin mendongakkan kepalanya.

“Jiyeon-ah, wae geu-“, Onew terkesiap. Ketika ia mengikuti arah pandangan Jiyeon yang mematung dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Oh! Sungguh! Onew muak dengan namja itu sekarang! Dilihatnya Minho sedang mencium seorang yeoja!

Cih! Lelah? Omong kosong, Choi Minho!

Ia segera menutup indra pengelihatan Jiyeon, “Jangan dilihat, Jiyeon-ah.” tutur Onew lembut. Jiyeon langsung memeluk Onew.

“Hiks… Onew oppa… Malhaebwa… Geu namja… bukan Minho oppa!!”, Teriak Jiyeon di pelukan Onew.

 “Mianhaeyo, Jiyeon-ahGeudae… Ne… Geu Choi Minho… “, Lirih Onew.

“Cukup! Akan ku akhiri sekarang!” Ucap Jiyeon sambil melepas pelukannya. Onew tersentak, dia ingin menahan Jiyeon. Tapi.. Niat yeoja itu jauh lebih membara (?). Jadinya, dia hanya pasrah. Biarlah Jiyeon yang mengatakan semuanya…

“Lelah, hm, oppa?” Sindir Jiyeon ketika berada di depan Minho.

Setelah diteliti lagi ternyata yeoja yang berciuman dengan Minho adalah Sulli, Choi Sulli. Seorang siswi kelas XII-C. Minho dan Sulli tersentak dan mengakhiri kegiatan mereka.

“Dan… Cih, aku tak tahu kalau kau sehina ini Choi Sulli-ssi!!” Ungkap Jiyeon sambil menekankan kata “HINA”.

“Jiyeon-ah.. Mianhaeyo… Bukan maksudku menyakitimu, aku hanya mencin-“, ” Geu ibseurul magabonda (Tutup bibir itu)!!!”, potong Jiyeon cepat.

“Aku sudah muak dengan semua perlakuanmu, oppa! Nae maeumi apa!” Sambungnya.

“Tapi itu tidak seper-” ucapan Sulli terhenti karena Minho berkata.

“Cih… Terbuka sudah semua kedokku. Aku memang tak mengaharapkanmu dari awal! Aku hanya merasa kasihan denganmu yang selalu mengemis cinta dariku! Aku sebenarnya menyukai Sulli!”. Jiyeon membatu, hanya merasa kasihan? Jadi… Apa gunanya semua kata cinta yang Minho ucapkan selama ini padanya?!

“Oh.. Geurae.. Aku memang pengemis! Dan aku menyesal mengemis cinta dari seorang namja brengsek sepertimu! Cih, bagus sekali aktingmu selama 1 tahun ini! Sampai-sampai tak terlihat!” Sindir Jiyeon sambil menatap Minho tajam.

Menangis?

Tidak… Dia tak mau menangis… Sudah cukup airmata yang dia keluarkan untuk Minho. Dia maju dan menampar keras pipi Minho.

Dwaesseo… Kita…” Jiyeon menggantung kalimatnya.

“PUTUS!!” Teriak Minho seketika. Matanya memancarkan amarah. ‘Berani sekali yeoja ini menamparku!’Batinnya.

“Cesh… Arraseo… Lagipula rasaku untukmu sudah mati. Dan aku punya peng-“.

PLAKK!!

Semua orang yang ada di atap tercengang melihat pemandangan yang tersuguhi (?) di depan mereka. Minho menampar Jiyeon! Sekali lagi, saya tekankan sodara-sodara MENAMPAR!! Sekali lagi, Minho MENAM- *author di cekek readers karena ngerusak mood*.

“RASAKAN ITU, PARK JIYEON! DASAR YEOJA TAK TAHU BERTERIMA KASIH! SUDAH UNTUNG AKU PERNAH MENERIMAMU! KALAU TIDAK-“, ucapan Minho terputus karena Onew mencekik lehernya.

SHIKKEUREO!! NAPPEUN NAMJA!! KAU YANG TAK TAHU BAGAIMANA CARA BERTERIMA KASIH!! KAU TAK TAHU ‘KAN BAGAIMANA PERASAAN JIYEON KETIKA KAU MENGACUHKANNYA!!” Teriak Onew.

“Cih… Dwae…sseo, hyung. Jangan… mem…bela yeo…ja itu…” Sinis Minho -walaupun tercekik masih bisa saja dia bersuara (-_-“a).

Minho memukul bagian perut Onew. Sehingga cekikkan di lehernya terlepas, dan Onew jatuh terduduk. Minho bangkit dengan susah payah, dia menghampiri Onew. Dia menendang punggung Onew, memukul wajah Onew. Ketika tangannya hendak memukul wajah Onew lagi, terdengar teriakan yeoja.

DWAESSEO! HENTIKAN!!” Teriak Sulli dan Jiyeon bersamaan. Mereka menangis, terduduk. Tapi, kali ini Jiyeon menangis untuk Onew bukan Minho. Onew memegang perutnya yang nyeri nyut-nyutan (?), punggungnya yang cekat-cekot (?), dan wajahnya yang cenat-cenut (?).

“Kali ini.. Ku maafkan kau Minho! Tapi, lain kali! Jangan harap aku melepaskanmu!” Ancam Onew.

“Onew oppa…” Lirih Jiyeon yang langsung bangkit menghampiri Onew. Sedangkan Sulli menghampiri Minho yang terlihat masih megap-megap (?).

Jiyeon memeluk erat Onew, menangis dalam isakan-isakan kecil yang lolos dari bibir kecilnya. “Uljimayo, Jiyeon-ah…” Tutur Onew.

Oppa~, gwenchanayo?” Tanya Jiyeon dan Sulli hampir bersamaan. Jiyeon ke Onew dan Sulli ke Minho. Minho hanya mengangguk -karena masih lemas-, sedangkan Onew membalas, “Ne. Nan gwenchana.” dan tersenyum lembut ke arah Jiyeon sembari menghapus jejak airmata di pipi Jiyeon.

Kajja.. Kita pergi saja..” Ajak Onew. Jiyeon mengangguk pelan, Onew mengambil kotak bekalnya dan turun dari atap.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 

 

Sepeninggal Onew dan Jiyeon, Minho dan Sulli masih di atap.

“Sulli-ah…” Panggil Minho lirih.

Ne.. Oppa?” Jawab Sulli pelan.

“Apakah aku salah? Aku memang tak mencintainya… Aku mencintaimu Sulli-ah…” Tutur Minho sambil mengadah ke langit.

Oppa memang salah… Walaupun begitu kenyataannya.. Bisa diselesaikan dengan baik-baik kan? Tak usah sampai berkata sinis seperti itu… Oppa yang memulai pertengkaran tadi..” Jawab Sulli jujur.

“Tapi… Jiyeon yang pertama kali berkata kasar padamu!” Bantah Minho, dia masih tak terima Sulli-‘nya‘ di caci oleh Jiyeon.

Geudae… Aku juga yang salah oppa… Aku sudah tahu kalau oppa masih berstatus sebagainamjachingu Jiyeon… Sedangkan aku, malah berciuman dengan oppa disini.” Ungkap Sulli, dia menunduk -menyesal dengan perbuatannya.

Menyesal mempunyai rasa kepada namja yang sudah menjadi milik orang lain. Menyesal karena dirinyalah yang menjadi penyebab putusnya hubungan Minho dan Jiyeon. Tapi… Hati tak bisa berbohong, kan?

Dwaesseo… Jangan menyalahkan dirimu sendiri… Kita sama-sama salah disini..” Koreksi Minho, Sulli yang mendengarnya mengadah dan tersenyum simpul.

Ne… Sebaiknya meminta maaf lebih cepat, itu lebih baik, Minho oppa. Arrachi?” Usul Sulli.

Ne.. Arraseo…” Balas Minho yang lalu menarik Sulli kepelukkannya.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

~JIYEON POV~

BRUGH…

Aku melemparkan tubuhku ke kasur yang empuk ini. Setelah diantar oleh Onew oppa, aku langsung masuk kamar. Ah~, aku merasa bersalah… Masa orang yang sudah baik padamu hari ini, diacuhkan? Lalu, bagaimana keadaannya setelah ditinju Minho tadi?

Aku bangkit dan mengambil ponsel kesayanganku. Aku lalu mengetik SMS untuk Onew oppa.

To: OnewDubu oppa~ ^^

‘Oppa~, mianhaeyo. Tadi, aku tak bermaksud ketus… Eum.. Keadaanmu bagaimana? Apakah perutmu masih sakit?’

SENDING MESSAGE…

SEND!

Tak sampai 5 menit kemudian, Onew oppa membalas pesanku.

From: OnewDubu oppa~ ^^

‘Gwenchana… Aku mengerti.. Kau sedang bad mood, ‘kan? Sabar ya, Jiyeon-ah… Kalau ada masalah kau bisa cerita pada oppa.. ^^. Oya, perutku sudah baikan… Tenang saja.. ^o^’

Aku tersenyum membaca balasan Onew oppa. Syukurlah.. Perutnya tak apa… Dia namja yang saaaangaaaat baik… Aku beruntung mengenalnya.

Tapi.. Sepertinya aku pernah mendengar namanya.. Dimana ya?

Akh! Komunitas ‘Jinki Lophe Lophe’!! Ternyata dia terkenal! Kenapa aku baru sadar? Ah.. Onew oppaterlalu rendah hati.. Padahal kan dia terkenal sekali.. Lebih terkenal dariku malah..

Aku jadi bingung. Kenapa aku menyukai namja seperti Minho oppa? Kenapa aku tak pernah melihat Onewoppa selama ini -dengan kebaikannya-. Aku menyesal menyukaimu, CHOI MINHO!!! ARGHHH!!

~JIYEON POV END~

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Next day~, @ Jiyeon’s Class

“Pagi, yeorobeun!” Sapa Jiyeon hangat yang dibalas dengan sapaan yang hangat pula dari teman sekelasnya. Dia melirik bangku Minho.. Kosong..

‘Akh! Sudahlah Jiyeon! Lupakan dia! Mungkin namja itu masih menjemput Sulli!”, Batin Jiyeon.

Matanya lalu bergerak-gerak liar, mencari bangku seseorang. Ya, orang yang selama ini memberinya semangat, orang yang perlahan mengisi relung hatinya. Lee Jinki…

Akhirnya! Ketemu! Dia duduk di pojok belakang, melihat ke luar jendela. Merenung… Eh? Merenung?

“Onew oppa!” Panggil Jiyeon yang membuat Onew sadar dari lamunannya.

“Oh.. Waesseo (sudah datang), Jiyeon-ah?” Tanyanya sambil mengeluarkan senyum khasnya.

“Eung!!” Ucap Jiyeon sambil mengangguk semangat. Jiyeon kemudian teringat akan sesuatu..

“Ah! Oppa! Kau ini sebenarnya terkenal, ‘kan?” Selidik Jiyeon. Onew tertegun sejenak, namun di detik berikutnya dia tersenyum.

“Iya.. Wae?” Balasnya sok innocent.

“Ugh! Kau membohongiku! Dulu kau bilang tak terlalu terkenal!” Kesal Jiyeon yang langsung memanyunkan bibirnya.

“Hhahaha! Kenapa baru sadar sekarang, hm?” Sindir Onew.

“Yaa! Ngeledek ya, oppa?” Tanya Jiyeon.

“Hhahaha! Arraseo… Mianhae, Jiyeon-ah.” tutur Onew. Jiyeon hanya tersenyum manisss sekali. Onew yang ngelihat pemandangan itu hanya blushing nggak jelas.

Oppa~, aku duduk denganmu ya?” Pinta Jiyeon.

N-ne?!” Onew terkejut mendengar permintaan Jiyeon.

Aku. Mau. Duduk. Sebangku. Denganmu. Oppa.” Ucap Jiyeon yang memberi penekanan di setiap katanya.

Wae?” Tanya Onew innocent.

“Ish, oppa.. Masih nanya… Aku males liat muka orang itu…” Balas Jiyeon sembari memberi tanda petik dengan tangannya ketika mengatakan ‘ITU’.

“Oh.. Terserah kau saja.. Udah bilang sama Kim seongsaengnim, belum?” Tanya Onew.

“Belum sih… Ntar aku bilang deh! Asal sama oppa boleh..” Ucap Jiyeon.

“Aku sudah bilang, terserah kau saja…” Jawab Onew santai.

“Hm! Arraseo! Sekarang aku duduk sini!” Riang Jiyeon yang lalu duduk di kursi sebelah Onew.

“Emm.. Itu tempatku Jiyeon-ah… Kau duduk di dekat jendela ya…” Tutur Onew sambil menunjuk bangkunya dan bangku Jiyeon.

“Ohh.. Mian..” Sahut Jiyeon, ia lalu bangkit untuk membiarkan Onew keluar. Kemudian, dirinya masuk kembali dan duduk di bangku yang dekat jendela.

Tak lama kemudian bel berbunyi.. Kim seongsaengnim pun memasuki kelas.

Annyeonghaseyo, yeorobeun!!” Sapa Kim seongsaengnim hangat.

Annyeonghaseyo, seongsaengnim!!” Balas semua murid bersemangat.

“Loh, Jiyeon-ah.. Kenapa kau duduk disitu?” Tanya Kim seongsaengnim. Semua mata murid kelas XII-A sontak beralih kepada sang empunya nama.

“E-eum… I-itu…”, “Jiyeon, ingin duduk di dekat jedela, seongsaengnim! Ingin mencoba suasana baru!” Seru Onew tiba-tiba.

“Oh.. Arraseo.. Bisa dimengerti..” Ucap Kim seongsaengnim sambil manggut-manggut, beliau kemudian melanjutkan, “Nah. Sekarang buka halaman 203! Lihat pada paragraf pertama! Baca dan pahami!”.

Tapi, Jiyeon bukan memperhatikan buku yang sudah dia buka lebar. Melainkan memperhatikan wajah manusia di sampingnya.

Wajah yang sangat serius membaca halaman 203 itu. Mulutnya komat-kamit -membaca tanpa suara-. Kepalanya terkadang mengangguk-angguk, pertanda ia mengerti materinya. Tanpa sadar Jiyeon blushing.

‘Jadi begini Onew oppa kalau dilihat dari dekat.. Tampan sekali…’ Histeris Jiyeon dalam hati.

Sejurus kemudian, Onew menghadap ke arah Jiyeon, membuat Jiyeon tersentak.

“Kenapa tak membaca?” Tanya Onew pelan.

“Aku tak mengerti.. Mau bertanya pada oppa, takut mengganggu. Oppa serius sekali sih…” Ucap Jiyeon beralasan.

“Oh.. Yang mana?” Tutur Onew.

Igeo!” Seru Jiyeon pelan.

“Oh.. Igeo.. Gampang…” Dan penjelasan Onew berlanjut. Sesekali Jiyeon mengangguk, tapi, dia sering blushing. Mengingat betapa dekat jaraknya dengan Onew sekarang.

~SKIP TIME~

3 Month later~

Jiyeon berdiri dengan gugup. Minho mengajaknya bertemu. Tadinya dia tak mau pergi, tapi, karena desakan Onew. Yah.. Terpaksa… Lagipula, siapa tahu dia mau menjelaskan tentang kesalah pahaman 3 bulan yang lalu.

“Jiyeon-ah!!” Panggil seseorang.

“Minho oppa..” Balas Jiyeon -sedikit canggung. “Jiyeon eonnie~” panggil Sulli lembut.

‘Oh, dia bawa Sulli juga.’ batin Jiyeon.

Kecewa?

Nggak tuh.. Jiyeon ‘kan bukan siapa-siapa Minho sekarang. Selain itu, hatinya juga sudah tertarik pada Lee Jinki.

Ah! Ani! Bukan tertarik, melainkan sudah jatuh cinta pada seorang Lee Jinki. Sikap cerobohnya yang mampu membuat orang tertawa, mimik seriusnya dan pandangan mata yang tajam dapat membuat preman takut, cengiran lebarnya yang dapat membuat orang tenang. Semuanya, Jiyeon menyukai semua yang ada di namja itu.

Waeyo, oppa, Sulli?” Tanya Jiyeon lembut.

Mianhae.. Aku tak bermaksud untuk menam-“, “Gwenchana, aku mengerti.” Potong Jiyeon cepat.

“Aku mengerti kalau aku terlalu terobsesi ke Minho oppa. Aku bahkan tak mau menghiraukan perasaan Minho oppa..” Jelas Jiyeon.

“Eum.. Aku juga harus berterus terang tentang perasaanku yang sebenarnya.. Tapi, bukan dengan cara seperti itu…” Lirih Minho.

“Aku juga minta maaf, eonnie~.” susul Sulli cepat sambil membungkukkan badannya.

“Eh! Sudah-sudah!! Jangan membungkuk seperti itu!! Aku jadi tak enak hati!!” Sahut Jiyeon. Sulli bangkit lalu memeluk Jiyeon, terisak kecil.

Jiyeon mengelus rambut Sulli, “Bagiku masalah ini tak seberapa.. Tapi, apakah kau sudah minta maaf pada Onew oppa?” Selidik Jiyeon kepada Minho. “Onew hyung…” Lirih Minho.

Terbesit rasa bersalah di dalam dirinya, mengingat dia pernah meninju perut Onew. Padahal, Onew-lah yang selama ini tinggal bersamanya. Karena orang tuanya sudah berada di alam sana, ikut menemani noona-nya yang terlebih dahulu pergi karena sakit. Onew dengan senang hati menawarkan rumah beserta anggota keluarga yang menyayanginya seperti anak mereka sendiri.

Tanpa sadar air matanya meluncur, namun baik Jiyeon atau Sulli belum menyadarinya. Kepalanya tertunduk, “Yaa! Minho-ah! Kenapa jadi cengeng lagi, eh?” Sindir seseorang.

Minho terkejut, ‘Panggilan itu.. Suara itu..‘ Batin Minho, ia mendongak.

Hyung!” Kejut Minho. Dia menghapus jejak air matanya, “A-ani, kau salah melihat, h-hyung..” Ucap Minho.

Dia merasa canggung saat mengucapkan “HYUNG”, mengingat apa yang pernah dia lakukan pada Onew.

Minho ingin pergi, matanya mencari Sulli, ‘Aish! Kemana anak itu!’ Kesal minho dalam hati. Namun, tak ada tanda-tanda keberadaan Sulli ataupun Jiyeon. Jadi, tadi dia sempat ditinggalkan??

“Ah~, melihatmu menangis.. Teringat akan masa lalu Minho-ah.. Malam itu..” Onew memasukkan tangannya ke saku celana sekolahnya dan memejamkan matanya, berusaha mendapatkan perasaan kala malam itu.

“Aku menangis.. Karena ditinggalkan.. Eomma.. Appa.. Dan noona..” Minho merasa matanya mulai panas.

“Ya.. Dan aku.. Melihatmu meringkuk di bawah pohon itu.. Menangis..” Lirih Onew.

Hyung.. Menghampiriku.. Menawarkan tempat tinggal.. Dan keluarga yang mau menerimaku..” Air mata Minho meluncur, menetes satu-persatu.

“Dan kau mengangguk.. Memancarkan wajah riang yang berseri-seri..” Onew tersenyum kecil mengingat hal itu. Minho menunduk, rasa bersalahnya makin besar.

‘Kurang ajar kau Minho! Melukai perasaan hyung yang sudah menyelamatkan nyawamu!’ Maki Minho dalam hati.

N-ne.. Sejak sa-saat itu.. Aku tak pernah menangis lagi.. Karena hyung, eomma, dan appa..” Minho tak kuat lagi, dia jatuh berlutut di depan Onew.

HYUNG! MAAF! AKU BERSALAH! MIANHAEHYUNG!! AKU MEMANG KURANG AJAR!!” Ucap Minho.

Onew terkejut, “Ani, Minho-ah..” Onew menggantung kalimatnya, ia menyuruh Minho berdiri.

Nan jeongmal neollawo (aku sangat terkejut).. Choi Minho, mau minta maaf pada seorang Lee Jinki?” Onew berucap -santai.

Ne! Wae? Kau hyung-ku! Biar saja kepopuleranku turun! Aku tak peduli! Asalkan kau mau memaafkandongsaengmu yang kurang ajar ini!” Sahut Minho tegas. Onew terkejut, ia tak menyangka Minho akan merasa bersalah sampai seperti ini.

Dwaesseo, Minho-ah.. Aku sudah memaafkanmu.” Tutur Onew lembut, ia sangat menyayangi Minho, sekalipun Minho bukan namdongsaeng kandungnya.

Minho memeluk Onew, “Gomawo, hyung..” Lirihnya. Onew menepuk kepala Minho pelan dan penuh sayang, “Ne.. Berjanjilah jangan mengulangi itu lagi, arraseo?” Tanya Onew.

Minho melepaskan pelukannya, dan mengulurkan tangan ke arah Onew.

Arraseo, hyung… Jabat tangan?” Tawar Minho. Tanpa pikir panjang, Onew menerima uluran tangan Minho, dan melakukan jabat tangan khas dirinya dan Minho. Mereka tersenyum satu sama lain.

SREK.. SREK..

Bunyi semak-semak mengagetkan mereka berdua. Onew yang tahu siapa yang ada di balik semak-semak itu, memanggil.

“Jiyeon-ah, Sulli-ah.. Kalian bisa keluar sekarang..” Suruhnya lembut.

Selanjutnya, mucul dua sosok manusia berkelamin perempuan. Ya, mereka Jiyeon dan Sulli.

“Sulli-ah?!” Kejut Minho.
“Tapi.. Kukira.. Kalian..” Sambungnya terputus-putus.
Ne. Onew oppa yang menyuruh kami bersembunyi di balik itu..” Ucap Jiyeon sambil menunjuk semak-semak tempat persembunyiannya dan Sulli tadi.

“Hiks.. Aku tak tahu.. Kalau masa lalu Minho oppa.. Seperti itu..” Isak Sulli. Jiyeon menepuk-nepuk pelan bahu Sull.
“Sudahlah.. Itu ‘kan masa lalu..” Ucap Jiyeon bijak. Onew dan Minho hanya tersenyum melihat Jiyeon dan Sulli yang terlihat sangat akrab -seolah di antara meraka tak pernah ada masalah.

“Baiklah.. Sulli-ah.. Kajja kita ke kantin. Na baegopayo.” ucap Minho.
Ne? Kenapa tidak pergi sendiri? Aku lelah.”, rujuk Sulli dingin.
Minho mematung.
Déjà vu
Kata-kata itu.. Kata-kata yang dia ucapkan kepada Jiyeon tiga bulan lalu.
‘Ternyata sakitnya seperti ini.’ batin Minho sedih. Dia menundukkan kepalanya, namun di detik berikutnya-
“Hmpftt.. Hahahaha!!” Tawa seorang yeoja yang diyakini adalah Sulli.
Mianhae oppa, aku hanya ingin oppa tahu. Dan merasakan, sakit hati Jiyeon eonnie. Begini juga, aku yeoja, oppa. Aku mengerti perasaannya.” terang Sulli, nada bicaranya kembali -riang dan bersemangat.
Ish, igeo yeoja.. Neo jikyeojulae? (Kau mau mati?)” Tanya Minho dengan nada bercanda.
Sedangkan yang ditanya hanya menjulurkan lidah dan berkata, “Tangkap saja kalau bisa!”.
Ya! Sulli-ah! Dorawa! YAANareul teonakajima (Jangan tinggalkan aku)!” Teriak Minho sambil berusaha mengejar Sulli yang sudah tak terlihat lagi batang hidungnya.

Onew dan Jiyeon hanya cekikikan melihat tingkah Minho dan Sulli.
Raut muka Onew tiba-tiba menjadi serius, “Jiyeon-ah.” panggilnya tegas. Jiyeon yang terkejut dengan panggilan Onew membalas dengan gugup.
N-ne? Wa-wae irae (ada apa), oppa?”, “Hhe.. Aku terlalu serius ya?” Cengir Onew tiba-tiba, Jiyeon hanya menghembuskan nafas -berat.
“Kukira kau mau berkata apa, oppa. Aku terkejut dengan raut mukamu.” tutur Jiyeon.
Geundae (Tapi), yang mau ku katakan memang serius, Jiyeon-ah.” ungkap Onew.

‘Serius? Apa?’ Batin Jiyeon penasaran.
Geundae..”, “Tto (Lagi)?! Masih ada lagi?” Potong Jiyeon,
Ne.. Ehehehe… Tapi, aku mau bicara di tempat lain. Bukan disini.Eotte?” Usul Onew.
“Terserah kau, oppa. Kapan? Jangan buat aku penasaran!” Sembur Jiyeon, Onew hanya cengengesan -kebiasaannya.
Arra arra, mmm.. Besok libur ‘kan?” Onew bertanya pada Jiyeon, Jiyeon mengangguk mengiyakan.
“Besok kita ketemuan di Apgeujong (Salah satu daerah di korea), di kedai dekat sungai kecil itu. Bisa? Jam 8 pagi!” Usul Onew.
Arraseo. Oppa jangan telat, eoh? Kalau telat…” Jiyeon sengaja menggantung kalimatnya, dia lalu memelototi Onew.

Onew yang mengerti maksud tatapan Jiyeon hanya bisa menelan ludah dengan perlahan.
Jiyeon tertawa, “Kau penakut, oppa!” Ejek Jiyeon.
Oh jinjjayo?” Ucap Onew SOK innocent,
“Ish, dwaesseo. Aku sudah bilang kan, tadi?” Sahut Jiyeon.
OH~! Jeongmalyo?” Balas Onew yang membuat Jiyeon kesal.
OPPA!!” Ucapnya yang lalu menggembungkan pipi. Sedetik kemudian mereka tertawa bersama.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
@ Apgeujong

~ONEW POV~

Disini aku sekarang, berjalan-jalan mengelilingi Apgeujong bersama Jiyeon. Mencari jajanan yang hampir tidak bisa kami pilih. Semuanya terlihat enak dan menggugah selera, kami bingung memikirkan itu semua.
Oppa! Aku tahu sekarang kita makan apa!” Ucap Jiyeon dengan bersemangat.
Mwoya?”, tanyaku tak kalah semangat. Sungguh, melihat makanan di sisi kanan dan kiri jalan ini, membuatku sedikit lemas dan pusing. Untung saja Jiyeon segera punya ide.
Sundae~~.”, jawabnya riang. Sundae? Mmm, boleh juga.
Tenggorokanku kering, dan cuaca hari ini panas -menurutku-. Dan sepertinya Jiyeon tidak merasa panas, lihat saja pakaiannya, hotpansberbahan jeans dipadukan dengan baju biru-putih khas pelaut yang berlengan sampai sikunya. Ia juga memakai topi dan kacamata, silau mungkin.
Sedangkan aku? Simple, celana pendek selutut berwarna krem dipadukan dengan t-shirt putih, plus topi.
Oppa? Kenapa bengong? Bagaimana setuju?”, ucap Jiyeon sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku.
Aku mengerjap sebentar, dan menjawab “Arraseo, kajja!!” Aku menarik tangannya. Aku tahu ada satu kedai di sini yang menjual Sundae terenak yang pernah kurasakan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Huaah! Segar! Manis! Mashitaaa~.” Heboh Jiyeon, aku hanya tersenyum kecil.
Jinjjayo?”, balasku santai. Jiyeon hanya mengangguk kecil, dia makan sundaenya dengan sangat lahap. Sampai tak sadar kalau mulutnya belepotan sundae itu. Tanpa sadar aku mengelap bibir Jiyeon dengan tanganku, dia sedikit terkejut, tapi tak menolak.
“Ah! Mianhaeyo, Jiyeon-ah. Aku tak bermaksud berbuat lancang.” ucapku lirih.
‘Baboya!! Kau membuat Jiyeon berpikir kau itu genit!’ Rutukku dalam hati.
An-aniya.. Gwenchana.. Go-gomawo, oppa.” balasnya gugup. Mukanya memerah.

SEPIII!!!
KAKU!!
SPEECHLESS!!
Oppa..”.
“Jiyeon-ah..”, ucapku dan jiyeon bersamaan. Kami berdua terkikik geli.
“Kau duluan..”, suruhku pada Jiyeon.
“Eum! Aku ingin bilang.. Kapan kau mau mengatakan hal yang ingin kau katakan itu oppa? Aku penasaran..”, tutur Jiyeon.
“Ah! GeuraeMianhae.. Tapi, tunggu sebentar ya..”, tegasku sambil menunjukkan eyesmile ala Onew. ^^
Arraseo..”, ungkap Jiyeon sedikit kecewa. Raut mukanya berubah. Aku jadi merasa bersalah. Tapi, tunggulah sampai sunset datang Jiyeon-ah. Jebal.. 

S 
K
 
I
 
P

Waktu sudah menunjukkan 17.15 (waktu Korea), sudah hampir sunset. Ini waktunya!
“Jiyeon-ah! Kajja, kesana!”, ajakku pada Jiyeon. Dia hanya mengangguk kecil.
Kami berhenti di dekat danau kecil, bias sinar matahari yang hampir pulang ke peraduannya mengenai air danau tersebut. Menambah indah pemandangan yang tersedia.
Oppa.. Kebiasaan ya.. Entar kesambet loh!”, tegur Jiyeon. Ah! Benar aku melamun lagi. Oke.. Sekarang apa yang mau kukatakan.. Oh iya..
“Ehehe.. Emm, jadi.. Yang mau ku.. Bicarakan.. Itu.. Anu.. Emm.. Neol johahae.. Nae yeojachingu ga dwaejullae?”, ungkapku terbata.
Waaa~~, malu!! Gugup!! Eomma, save me from here now!!
M-wo?”, tanya Jiyeon tak percaya.
“Itu sudah jelas.. Tak perlu kukatakan lagi.. Malu tahu..”, balasku.
Nado.”, tutur Jiyeon. Wajahnya merah, tambah merah karena efek bias sang surya yang mulai tenggelam. Tangannya meremas-remas satu sama lain, kakinya bergetar, keringatnya meleleh. Dan yang terpenting dia bilang ‘NADO’! Itu artinya dia juga suka padaku, kan?
Jeongmalyo?”, tanyaku.
“Sejak kapan? Kau kan selalu memikirkan Minho.”, lanjutku.
“Nggak selamanya juga kan, oppa. Aku memikirkan Minho oppa, aku juga harus move on. Dan aku menyukai oppa sejak..”, Jiyeon menerawang.
“.. 3 hari setelah pertemuan pertama kita..”, lanjutnya sambil tersenyum.
“Tapi, itu belum sepenuhnya ‘kan? Masih sebagian kecil. Lainnya Minho.”, terangku.
Jiyeon terkikik, “Iya sih. Yang penuh itu, 3 minggu setelah pertengkaranmu dan Minho oppa…”, ucapnya.
“Mmm. Jadi… Nae yeojachingu ga dwaejullae?”, tanyaku lagi.
“Eum..”, jawabnya sambil menahan rona merah yang makin timbul.
Mendengar jawaban Jiyeon, sontak aku langsung memeluknya.
Gomawooo.. Jiyeon-ah! Saranghaeyooo!!”, teriakku. Tak peduli dengan pandangan aneh dan takjub dari orang sekitar.
Yaa! Oppa! Kau mau buat kita jadi pusat perhatian, eh?”, tanya Jiyeon.
“Biar saja..”, ucapku santai.
OPPA!!!”, seru Jiyeon. Ia memang paling tak suka menjadi pusat perhatian.
Arraseo..”, ucapku yang lalu melepaskan pelukanku.
Ijen.. Kita pulang sekarang, chagi?”, godaku yang sukses membuat Jiyeon memerah.
Kajja..”, balasnya pelan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Eh, oppa..”, panggil Jiyeon saat kami sedang dalam perjalanan menuju rumah Jiyeon.
“Hmm.. Wae?”, sahutku.
“Bagaimana dengan fansmu? Nanti aku dibully..”, cemasnya.
“Soal mereka. Kita pikirkan nanti saja.. Yang terpenting sekarang, kau ada disisiku selamanya.. Arrachi?”, tanyaku. Dia mengangguk dan tersenyum.
Kami pun melanjutkan perjalanan dengan tangan yang saling bertautan.
THE END

One thought on “[Freelance] Nae Maeumi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s